Demi Kesejahteraan, Haruskah Pustakawan Turun ke Jalan?

Dunia PerpustakaaN.Com || Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) kurang berdaya memperjuangkan para anggota maupun pengelola taman bacaan masyarakat (TBM). Sampai saat ini, tidak seperti halnya guru, belum ada tunjangan fungsional bagi pustakawan dan pengelola TBM.

“Pemerintah akhirnya memberikan kesejahteraan guru setelah para guru terjun ke jalan. Apakah para pustakawan dan pengelola TBM harus turun ke jalan agar mendapatkan tunjangan?” kata Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI), Suherman dalam acara Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan dan TBM yang diadakan Bapapsi Kabupaten Bandung di Hotel Antik Soreang, seperti dilansir dari klik-galamedia.com Rabu (3/10).

Menurut Suherman, seharusnya IPI yang memiliki ribuan anggota bisa memperjuangkan kesejahteraan bagi pustakawan dan pengelola TBM. “Kalau guru mencerdaskan anak-anak bangsa, apakah pustakawan dan pengelola TBM tidak ikut mencerdaskan bangsa,” katanya.

Suherman mendesak agar IPI memperjuangkan nasib pustakawan dan pengelola TBM. “Kalau perlu mahasiswa perpustakaan siap terjun ke jalan. Tinggal lembaga yang menggerakkan,” tegasnya.

Suherman menambahkan, seorang pustakawan maupun pengelola TBM bukan sekadar menunggu pengunjung. Menurutnya, pustakawan bisa menjadi analis informasi maupun penulis buku untuk mencerahkan wawasan masyarakat.

Dia mencontohkan, futurolog Alvin Toffler yang mengarang buku dengan bermodalkan membaca 30 surat kabar setiap harinya. Begitu juga dengan Pramudya Ananta Toer, juga merupakan orang yang rajin mengumpulkan berita-berita di media massa sebagai bahan untuk menulis.

“Demikian pula dengan penulis buku pintar, Iwan Gayo, yang menulis bukunya berasal dari media massa. Jadi, pustakawan dan pengelola TBM tak bisa menumbuhkan budaya baca kalau dirinya tak suka membaca,” ujarnya.

Harus bersaing

Sementara itu, salah seorang pengurus MLI Jabar, Bagus Ramdhan menambahkan, TBM dan perpustakaan harus bersaing dengan kemajuan teknologi dan informasi. Untuk itu, pengelola TBM dan perpustakaan harus kreatif mengadakan berbagai acara untuk menarik masyarakat.

“Teknologi seperti permainan atau game tentu menarik bagi masyarakat, apalagi anak-anak. Padahal di sisi lain kita ingin meningkatkan budaya baca masyarakat,” katanya.

Menurut Bagus, TBM dan perpustakaan bukan sebatas tempat membaca melainkan pencerahan masyarakat. “TBM ternyata mengurusi juga masalah-masalah di masyarakat untuk pemberdayaan warga. Tak sedikit TBM yang memiliki usaha produktif dengan ilmunya didapat dari buku,” katanya.

Sedangkan untuk menjalin kerja sama antar-TBM, kata Bagus, bisa melalui media sosial seperti Facebook. “Teknologi kita mainkan untuk kepentingan peningkatan budaya baca,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s